stat

14 September 2009

Fenomena Facebook

Artikel ini saya sadur dari beberapa blog sbb :
Sebuah tweets atau pesan di Twitter masuk dari seseorang di Moldova di tengah hari yang diwarnai berbagai bentrokan antara petugas keamanan melawan demonstran anti rezim komunis yang berkuasa itu.
“TV di Moldova Utara mati. Untunglah kita punya INTERNET YANG MAHAKUASA! Mari memaksimalkannya untuk berkomunikasi secara damai untuk mencapai kebebasan,” tulisnya.

Beberapa detik berselang, puluhan tweets bergantian masuk. Ada yang mengeluhkan bos di kantor yang melarang turun berdemonstrasi, ada pula yang menyampaikan pesan damai dan tuntutan perubahan rezim yang dianggap telah bertindak curang dalam pemilu.
Yang pasti, dari tweets demi tweets itulah dunia mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di negeri termiskin di Eropa itu saat media asing kesulitan menembus. Dari spirit yang terus digelorakan secara online lewat Twitter atau Facebook itu jugalah, ribuan demonstran, kebanyakan anak-anak muda, tak pernah kehabisan energi menentang penguasa Moldova sepanjang April lalu.
“Hanya enam orang dari kami yang mengorganisasikan semuanya lewat internet. Hasilnya, 15 ribu orang sekaligus turun ke jalan,” kata Natalia Morar, jurnalis dan salah satu pentolan kelompok pemuda yang menggerakkan demonstrasi di Moldova, kepada harian Inggris The Independent.
Sebulan kemudian giliran Iran yang diguncang demonstrasi serupa kala ratusan ribu pendukung kandidat presiden yang kalah, Mir Hossein Mousavi, juga menggugat hasil pemilu. Pemerintahan Mahmoud Ahmadinejad menyikapi aksi itu dengan keras. Misili paramiliter Basij diterjunkan, korban jiwa pun berjatuhan.
Karena media asing diblokir, kelompok antipemerintah pun memanfaatkan Facebook, Twitter, dan berbagai blog tak hanya untuk menggalang dukungan, tapi juga untuk mewartakan apa yang terjadi di Negeri Mullah itu. Di saat media konvensional berkelas raksasa macam CNN dan BBC tak berdaya, Facebook dan Twitter justru menjadi jendela bagi dunia untuk menyaksikan berkecamuknya harapan, heroisme, dan horor di Iran.
Dunia pun langsung sepakat: apa yang terjadi di Moldova, Iran, dan Venezuela di awal bulan ini saat puluhan ribu massa memprotes undang-undang pendidikan baru ala Hugo Chavez adalah penanda lahirnya “Revolusi Facebook” atau “Revolusi Twitter.” Inilah fenomena yang mematahkan nubuat Mao Tse Tung yang terkenal itu: kekuasaan hanya lahir dari ujung bedil.
“Iran dan Moldova adalah contoh nyata ketika piranti jejaring sosial menjadi senjata ampuh untuk menggerakan massa dalam waktu singkat,” urai Noam Cohen, kolomnis Link by Link pada The New York Times.
Tak cuma ampuh untuk menentang penguasa, Facebook dan Twitter juga bisa berjasa besar mendudukkan seseorang di pucuk kekuasaan. Barack Obama adalah contoh paling terkenal. Kemenangannya atas John McCain di pemilihan presiden Amerika Serikat (AS) pada November 2008 lalu tak lepas dari agresivitasnya memperkenalkan diri kepada anak-anak muda lewat jejaring sosial. Fakta mencatat, di antara pemilih berusia 18-29 tahun, Obama unggul 2:1 atas McCain.
Taktik Obama itu lalu ditiru di mana-mana. Misalnya, Benjamin Netanyahu pada pemilu Israel Februari lalu. Atau juga Indonesia. Latah? Mungkin, tapi itu wajar. “Karena, di era sekarang, ada kampanye dengan cara yang biasa dan ada pula kampanye lain secara online yang dinamikanya sangat berbeda,” kata Morley Winograd, penulis buku Millennial Makeover: MySpace, YouTube and the Future of American Politics.
Revolusi Facebook juga menerobos beberapa bidang lain. Di Australia, jejaring sosial yang mulai diluncurkan lima tahun silam itu resmi menjadi protokol legal di persidangan. Maret lalu, tetangga Negeri Kanguru itu, Selandia Baru, malah telah mempraktekkan aturan serupa.
Sedemikian besarnya revolusi yang dihadirkan Facebook dan Twitter, tak heran kalau Mark Pfeifle, deputi penasihat keamanan nasional pada National Security Council AS, mengusulkan jejaring sosial itu sebagai kandidat penerima Nobel Perdamaian. “Twitter adalah megafon dari suatu tuntutan perubahan,” katanya. (Sumber: JPNN)
SEKARANG BANDINGKAN DENGAN YG DIBAWAH ini:
Surabaya - Surya- Demam Facebook (FB) dan Yahoo Messenger (YM) bikin Pemkot Surabaya gerah. Betapa tidak. Sebagian jam bekerja PNS habis untuk chatting. Kinerja pun menurun. Tak hanya itu, situs jejaring sosial ini konon juga bikin banyak PNS selingkuh.
Akhirnya, tak ada jalan lain kecuali memblokir FB dan YM. Ini diungkapkan Kadis Infokom Chalid Buhari, Jumat (4/9). Pemblokiran, katanya, tidak hanya dilakukan di kantor kantor di Jl Jimerto, melainkan juga di seluruh instansi pemkot yang terhubung secara intranet dengan Dinas Kominfo, termasuk gedung dewan dan 31 kantor kecamatan se Surabaya.
Pemblokiran, kata Chalid, dilakukan selama jam kerja, sejak masuk kerja pagi hari sampai pukul 15.00 WIB (selama Ramadan) dan pukul 16.00 WIB (pasca-Ramadan). Penutupan situs jejaring ini sekaligus memenuhi permintaan sejumlah SKPD.
Sejumlah SKPD, lanjut Chalid, mengeluh karena akhir-akhir ini akses internet di pemkot sangat lemot (lambat). Ini seiring semakin banyaknya PNS yang mengakses FB dan YM. “Padahal, sekarang ini ada penyusunan RAPB. Kelancaran akses internet sangat dibutuhkan, apalagi sistem penganggaran kami berbasis online,” katanya kemarin.
Selain itu, pemblokiran dimaksudkan agar PNS berkonsentrasi penuh menyusun anggaran. “Sekarang ini juga lagi ramai-ramainya proses lelang. Kami khawatir akses internet yang lemot bisa menyulitkan rekanan yang mengakses tender lewat E-Prog,” tandas Chalid. Sampai kapan pemblokiran ini? Chalid menjanjikan minimal proses penyusunan RAPBD selesai. Tapi, sebelumnya akan dievaluasi dulu.
Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Surabaya Yayuk Eko Agustin menyatakan sangat setuju dengan pemblokiran. Dia melihat kehadiran YM dan FB mengganggu kinerja PNS. Tak hanya itu, jejaring sosial ini sering dimanfaatkan untuk hal-hal yang melanggar aturan. “Ada laporan dari beberapa SKPD kalau sekarang banyak pegawai selingkuh. Ini karena terlalu sering mengakses dua program itu. Jadi, bagus kalau diblokir selama jam kerja,” kata Yayuk.
Namun, karena akses kedua program ini juga bisa dilakukan melalui ponsel, Yayuk meminta masing-masing dinas untuk melakukan pengawasan melekat (waskat), apalagi disaat penyusunan anggaran seperti saat ini. “ Ini harus dipantau, jangan sampai itu mengganggu konsentrasi untuk persiapan anggaran ini,” tandasnya.
Pemblokiran tentu saja membuat sebagian PNS menggerutu. Selama ini mereka menganggap YM dan FB sebagai penyemangat kerja. “Kalau kerja di luar kantor enak, bisa jalan-jalan. Tapi, kami setiap hari dalam ruangan. Jenuh kalau di depan meja dan komputer terus tanpa ada kegiatan refreshing,” tuturnya.
PNS berjilbab ini mengaku menggunakan YM dan FB untuk berkomunikasi dengan PNS di instansi lain. Bahan obrolan pun tidak sekadar gosip, melainkan saling tukar informasi soal perkembangan di masing-masing dinas-masing. “Kalau diputus begini ya kembali lagi ngrumpi di kantor,” katanya. uus
Nach pembaca sudah BISA MEMBEDAKAN MENTAL orang-orang kita, sebetulnya saya sudah melakukan hal ini jg di instansi kerja kami, bahkan sebelum harian surya memampang tulisan ini, latah, suka ngrumpi, omong basa basi itulah MENTAL sebagian bangsa kita.
Tetapi YANG BAIK masih banyak kok orang-orang kita, kalau saya sendiri sih lebih suka nge blog....


2 komentar:

Iklan Gratis mengatakan...

Facebook ah facebook...
kini sudah menjadi candu bagi sebagian individu...
ada yang hanya sekedar punya n tidak mw dibilang ketinggalan jaman...
ada yang memang senang n sangat update denganfacebook...
sampai2 ada yang jadia rajin kerjanya..
pdahal datang pagi2 bukan untuk mengerjakan pekerjaan kantorntya, tetapi untuk cek status hehehee...kek lagunya Saykoji aja yah.

facebook juga banyak yang dijadikan sebagai ajang usaha menawarkan barang atau jasa...
ini bisa dibilang orang yang memanfaatkan peluang dengan bagus...
apalagi jejaring ini sangat update n lebih unggul dari Frienster...

bahkan sekarang anak SD aja dah pada punya facebook sendiri...
walah....saya jadi ketinggalaln nih sama anak2 SD hihihi...

btw, Facebook juga banyak keuntungan n kerugiannya juga...
Mengembalikan Jati Diri Bangsa

akung mengatakan...

Betul jg nich bang komennya, emang semuanya tergantung pengguna, maunya apa, kalau buat bisnis wong sy setuju sekali, artinya kita bs ambil peluang, thanks komennya